Jumat, 07 Agustus 2015

Profesionallah di dalam Berbisnis antara Seller dan Buyer

Di dalam setiap pekerjaan, banyak tantangan di depan mata yang pastinya selalu menghampiri. Apabila ada peluang, terkadang muncullah niat buruk untuk menyelamatkan diri sendiri. Hal itu manusiawi saja, karena setiap orang memiliki reflek untuk mempertahankan dirinya walau hal itu salah sekalipun. Dalam sebuah buku Humanisme, berisikan tentang suatu logika yang tersimpan, mengingatkan saya untuk bersikap lebih baik lagi di dalam menghadapi para Partner Bisnis maupun Klien yang terbilang cukup Bobrok. Di dalam buku itu tertulis, setiap manusia memiliki hasrat untuk menjadi penting. Penting di dalam mendapatkan apa yang ia mau. Manusia memiliki naluri untuk membela dirinya. 

Begitu pula dengan peristiwa yang saya alami baru-baru ini, terjadi sebelum Lebaran tertanggal 15 Juli 2015. Sangat sungguh disesalkan salah satu perusahaan yang sudah berbentuk PT tersebut. Sikap dan Profesionalisme dari karyawannya begitu bobrok. Tidak ada kabar dan lari begitu saja tanpa tujuan yang jelas setelah hampir kurang lebih 3 Minggu. Ketika di cari yang ada bukan menjelaskan dengan baik-baik, justru yang dilakukan adalah emosi yang tidak beralasan. Sebagai seller memang melayani Buyer seperti Raja dan Ratu. Namun, apabila Buyer tidak memiliki sikap yang tidak pada wadahnya di dalam berbisnis. Sorry to say " Benar-benar sangat Bobrok dan bukan merupakan manusia yang bisa berpikir kedepan demi kemajuan bersama". Apabila dunia ini penuh dengan manusia yang demikian, apa jadinya peradaban manusia. 

Sungguh memalukan ! Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan peristiwa dimana, keprofesionalitas suatu pekerjaan tercoreng hanya karena sebuah Invoice yang kecil saja. Perusahaan yang sudah berbentuk PT tersebut, sudah mencemarkan sebuah kerjasama yang terjalin bahkan jasa yang diberikan oleh pihak kami sudah benar-benar maksimal. Pada kenyataannya, semuanya adalah sia-sia belaka. 

Memang ! cukup sudah mendapatkan permasalahan yang kesannya seperti mengurusi seorang anak kecil. Dunia bisnis terlihat seperti dunia taman kanak-kanak bermain. Mengapa saya bisa menyebutkan demikian? Karena Profesionalitas pekerjaan tercoreng ketika sudah memastikan pernyataannya adalah benar adanya untuk menyelesaikan semua urusan bisnis, setelah apa yang diminta didapatkannya.Memang itulah manusia, tidak pernah puas untuk menindas manusia lain dengan kelakuan yang bisa dianggap seperti sampah masyarakat.

Dengan rasa terpaksa harus menggunakan cara lain, selain jalur media, sebagai wadah berbagi informasi agar kedepannya dapat menjadi lebih baik.
.
Berawal dari transaksi yang terjadi pada tanggal ..................

TO BE CONTINUED


Tidak ada komentar:

Posting Komentar